Laptop gaming layar gulung Lenovo Legion Pro Rollable debut di CES

Lenovo kembali memamerkan ide “masa depan” gaming laptop lewat debut Legion Pro Rollable Concept di CES 2026 (6 Januari 2026). Perangkat ini diposisikan sebagai proof of concept untuk atlet esports, mereka yang butuh layar besar saat latihan, tetapi tetap menginginkan bentuk laptop yang relatif portabel saat dibawa ke bootcamp, turnamen, atau scrim.
Konsep “layar gulung” di laptop bukan hal baru, namun pendekatan Lenovo di lini Legion ini menarik karena orientasinya berbeda: bukan memanjang ke atas, melainkan melebar ke samping seperti monitor ultrawide. Hasilnya, satu perangkat bisa berganti karakter dari laptop 16 inci menjadi “laptop rasa monitor” yang lebih lebar untuk kebutuhan latihan kompetitif.
Debut di CES 2026: Laptop Konsep untuk Atlet Esports
Pada CES 2026, Lenovo secara resmi memperkenalkan Legion Pro Rollable Concept dan menegaskan statusnya sebagai perangkat konsep, bukan produk rilis massal. Narasi yang dibangun cukup jelas: ini bukan sekadar gimmick, melainkan eksperimen form factor yang menarget kebutuhan latihan esports.
Lenovo menempatkannya dalam konteks rutinitas atlet: analisis VOD, latihan aim, komunikasi tim, sampai menjaga konsistensi performa di berbagai venue. Dengan layar yang bisa berubah ukuran, satu mesin diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan berbagai fase latihan tanpa perlu monitor eksternal.
Sejumlah liputan pasca-CES juga menggarisbawahi positioning tersebut, termasuk rangkuman yang menekankan mode-mode layar dan kaitannya dengan skenario latihan. Artinya, “rollable” di sini bukan hanya soal mekanik, tapi juga tentang cara Lenovo membingkai pengalaman esports yang lebih fleksibel.
Konsep Layar Gulung yang Melebar Horizontal (Bukan Vertikal)
Di Indonesia, DetikInet menyorot pembeda penting: Legion Pro Rollable melebar secara horizontal, berbeda dengan ThinkBook Plus Gen 6 Rollable yang sebelumnya “ditarik” vertikal. Perbedaan orientasi ini berpengaruh besar pada pengalaman gaming, karena perluasan ke samping terasa lebih natural untuk gaya monitor ultrawide.
Lenovo menyebut panel dimulai dari 16 inci, lalu dapat melebar menjadi 21,5 inci, dan pada tahap maksimal menjadi 24 inci. Alih-alih menambah tinggi layar, pendekatan ini menambah lebar bidang pandang, yang sering dicari gamer kompetitif untuk meningkatkan peripheral awareness.
Dengan cara ini, laptop tidak memaksa pengguna mengubah kebiasaan ergonomi setinggi layar, melainkan memberi ruang ekstra di kanan-kiri. Untuk game kompetitif, ruang tambahan itu bisa berarti minim alt-tab, UI lebih lega, atau timeline editing VOD yang lebih panjang saat review.
Tiga Mode Resmi: Focus, Tactical, dan Arena
Lenovo memberi nama mode yang cukup “esports-coded”: Focus Mode (16 inci), Tactical Mode (21,5 inci), dan Arena Mode (24 inci). Penamaan ini bukan sekadar kosmetik; Lenovo mengaitkannya dengan kebutuhan latihan yang berbeda.
Dalam kutipan yang dirilis Lenovo melalui StoryHub, mereka menyebut: “The Lenovo PureSight OLED display starts at 16” in Focus Mode…” lalu menjelaskan tujuan tiap mode untuk latihan atlet esports. Intinya, Focus Mode diarahkan untuk latihan mekanik presisi; Tactical Mode membantu memperluas kewaspadaan periferal; dan Arena Mode ditujukan untuk konteks koordinasi tim dan pemantauan informasi yang lebih banyak.
Rangkuman dari Windows Central (12, 13 Januari 2026) mengulang inti yang sama, ukuran bertahap 16 → 21,5 → 24 inci serta keterkaitannya dengan latihan kompetitif. Dengan pendekatan ini, Lenovo seperti ingin menjadikan perubahan ukuran layar sebagai bagian dari “workflow latihan”, bukan sekadar tombol pamer teknologi.
OLED, 240Hz, dan Klaim Respons 1ms: Apa yang Terlihat di Hands-on
Dari sisi panel, beberapa hands-on di CES 2026 memberi gambaran performa yang diincar Lenovo. TechRadar melaporkan panel OLED yang dapat melebar dari 16 inci ke 21,5 inci (Tactical Mode) lalu mendekati 24 inci untuk Arena Mode, dengan klaim refresh rate 240Hz dan respons 1ms pada unit demo.
Angka 240Hz dan 1ms adalah target yang sangat relevan untuk esports, terutama untuk game yang menuntut reaksi cepat dan tracking halus. Jika spesifikasi ini nantinya konsisten di produk final (andaikan konsep ini dikomersialkan), ia bisa menjadi kombinasi unik: ultrawide yang dapat “muncul” saat dibutuhkan, tanpa mengorbankan karakteristik panel gaming kelas atas.
Beberapa liputan booth juga mencatat transisi layar yang tetap menyala saat mengembang, tanpa blackout, sehingga perubahan ukuran terasa lebih mulus. Mint, misalnya, menyorot aspek bahwa proses ekspansi terjadi dalam “tiga tahap” dan tetap mempertahankan tampilan aktif selama perpindahan ukuran.
Mekanisme Dual-Motor dan Tantangan Fisik yang Masih Terlihat
Daya tarik terbesar laptop ini justru berada di sisi mekanikal: bagaimana panel bisa ditarik dan tetap stabil untuk pemakaian harian. Windows Central menjelaskan mekanisme dual-motor, tension-based yang ditujukan untuk mengurangi noise dan vibrasi, sekaligus menjaga panel tetap taut agar meminimalkan lipatan (creasing).
Di show floor, beberapa pengamat juga menyebut sistem tegangan ganda ini sebagai kunci agar pengalaman “roll” tidak terasa ringkih. Mint mengaitkan hal tersebut dengan observasi bahwa layar dapat mengembang tanpa mematikan tampilan, memberi kesan mekanisme yang cukup matang untuk sebuah demo.
Namun, The Verge juga mencatat keterbatasan prototipe: motor masih terdengar, ada gap fisik pada lid, dan sejumlah “rough edges” yang mengingatkan bahwa ini belum final. Ini penting untuk dicatat karena laptop rollable tidak hanya harus bekerja, ia harus bekerja ribuan kali dalam jangka panjang, di tas, di perjalanan, dan dalam kondisi pemakaian kompetitif yang intens.
Fondasi Performa: Kelas Legion Pro 7i dan RTX 5090 Laptop
Lenovo menyebut basis platform konsep ini berangkat dari kelas Legion Pro 7i, dengan opsi platform Intel Core Ultra serta GPU hingga NVIDIA GeForce RTX 5090 Laptop. Dengan kata lain, Lenovo tidak memasangkan form factor baru ini pada spek menengah; mereka justru menempelkannya pada tier performa yang memang identik dengan “mesin utama” gamer kompetitif.
Jika tujuan utamanya adalah latihan esports, pilihan spek tinggi punya dua manfaat. Pertama, ia memastikan frame rate stabil di setting kompetitif; kedua, ia memberi ruang untuk skenario latihan modern seperti recording, streaming, overlay analitik, hingga review VOD tanpa tersendat.
Lenovo Gaming (kanal komunitas/resmi) juga menyinggung dukungan optimisasi seperti Lenovo AI Engine+ / LA Core, yang diklaim dapat membantu penyesuaian performa, deteksi skenario, dan Smart FPS tuning. Walau klaim ini masih perlu pembuktian di unit final, arahnya konsisten: konsep ini ingin terlihat sebagai “tool atlet”, bukan sekadar demo panel unik.
Dari Rumor hingga Realita, Lalu Drama Demo TV
Sebelum CES 2026, perangkat ini sudah ramai sebagai rumor. Gadgets360 melaporkan bahwa “Legion Pro Rollable” diperkirakan debut di CES 2026 dan mengusung konsep ultrawide 21:9 yang diaktifkan via tombol, sebuah petunjuk bahwa pasar memang menunggu inovasi layar yang lebih relevan untuk produktivitas dan gaming.
Begitu resmi dipamerkan di CES, perhatian pun bergeser dari “apakah ini nyata” menjadi “seberapa matang ini untuk diproduksi.” Berbagai media hands-on memberi sinyal campuran: idenya kuat, spesifikasi panel terdengar menjanjikan, tetapi konsekuensi mekanik dan toleransi fisiknya belum sepenuhnya rapi.
Puncak sorotan publik terjadi pada 17 Januari 2026, ketika unit demo dilaporkan gagal melakukan roll-out saat live demo di segmen The Tonight Show with Jimmy Fallon. Disebutkan segmen tersebut tidak tayang di broadcast, meski klip lengkapnya ada di YouTube. Insiden ini menjadi pengingat keras bahwa teknologi konsep paling rentan diuji justru pada momen paling terlihat.
Legion Pro Rollable Concept memperlihatkan arah yang menarik: mengubah ukuran layar bukan lagi kompromi “bawa monitor atau tidak,” melainkan fitur yang bisa diaktifkan sesuai sesi latihan. Dengan tiga mode resmi (Focus, Tactical, Arena) dan pendekatan melebar horizontal, Lenovo menyasar kebutuhan esports yang spesifik, presisi, awareness, dan koordinasi.
Namun, rangkaian catatan hands-on dan insiden demo publik juga menunjukkan realitasnya: mekanisme rollable masih menyisakan tantangan noise, celah fisik, dan konsistensi kerja di situasi tak terduga. Jika Lenovo berhasil mematangkan sisi durability dan pengalaman pengguna, konsep ini berpotensi menjadi blueprint baru untuk laptop gaming layar gulung, bukan hanya sekadar atraksi CES.
➡️ Baca Juga: Kok Bisa Laptop Rtx 4090 Harga 100 Jutaan Masih Lambat Ini Penyebab Nyata Dari Pengguna
➡️ Baca Juga: Rose BLACKPINK Raih Sejarah Sebagai Solois K-Pop Pertama yang Tampil di Grammy Awards




