depo qris depo 10k
bisnis

Harga Minyak Dunia Capai US$112, Analis Soroti Dampak Negatif untuk Ekonomi Global

Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan, melewati angka US$110 per barel dalam perdagangan yang berlangsung pada Senin pagi, 23 Maret 2026. Kenaikan harga ini, yang dipicu oleh intensifikasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dianggap sebagai sinyal negatif bagi perekonomian global.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, harga minyak mentah jenis Brent tercatat pada angka US$112,85, yang setara dengan sekitar Rp 1.912.694,65 (dengan asumsi kurs Rp 16.950 per dolar AS) per barel. Di sisi lain, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), diperdagangkan pada harga US$98,91 atau Rp 1.676.425,59 per barel.

Konflik yang melibatkan serangan dari AS dan Israel terhadap Iran semakin meluas ke sejumlah wilayah strategis di Asia Barat. Situasi yang awalnya berfokus pada isu geopolitik kini mulai berkembang menjadi ancaman yang lebih luas bagi ekonomi global, dengan harga minyak berada di pusat perhatian.

Kekhawatiran di pasar tidak hanya terfokus pada kenaikan harga, tetapi juga pada potensi gangguan pasokan energi. Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi hampir 20 persen pasokan minyak dunia, saat ini berada dalam kondisi yang penuh tekanan.

Pergerakan kapal tanker mengalami perlambatan, biaya asuransi meningkat tajam, dan serangan yang terus-menerus menjadikan jalur distribusi energi ini sebagai kawasan berisiko tinggi.

Kaushal Sampat, Presiden Vayana, menilai bahwa meningkatnya konflik ini telah secara langsung mempengaruhi sektor energi. Ia menekankan bahwa situasi ini tidak hanya sekadar gangguan sementara.

“Ini bukanlah masalah yang bersifat sementara, tetapi lebih merupakan kombinasi antara gangguan langsung dan risiko struktural yang mulai muncul,” ungkapnya.

Berdasarkan estimasi pasar, diperkirakan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak dapat terkena dampak jika gangguan ini berlanjut. Mengingat Selat Hormuz mengangkut hampir 20 juta barel per hari, bahkan gangguan kecil dapat memiliki dampak yang luas secara global.

Volatilitas pasar saham semakin meningkat, nilai tukar mata uang melemah, dan imbal hasil obligasi menyesuaikan diri dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Para investor mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi mereka seiring dengan melonjaknya biaya energi.

Dr. Ravi Singh, Chief Research Officer di Master Capital Services, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan global sudah terlihat. “Penurunan terbaru di pasar saham dipicu oleh escalasi konflik di Timur Tengah, peningkatan harga minyak, dan aksi jual dari investor asing,” jelasnya.

➡️ Baca Juga: Rilis Pembaruan “Jumbo”, Aplikasi Telegram Tambahkan Fitur Enkripsi E2E untuk Obrolan Grup.

➡️ Baca Juga: 5 Game Eksklusif Xbox yang Dibatalkan Total di Tengah Produksi, Salah Satunya Budget 200 Juta Dolar!

Related Articles

Back to top button