Implementasi Konsep Science and Technology Park di  Indonesia dalam rangka mendorong terbentuknya STP di Propinsi Sumatera Selatan Kiri ke kanan: Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kemenristek (Sri Setiawati); Kabalitbangnovda Propinsi Sumatera Selatan (Ekowati Retnaningsih); Direktur Bandung Techno Park (Jangkung Raharjo); Ketua Bagian Farmakologi FK Universitas Sriwijaya (Prof. DR. dr. Muhammad Totong Kamaluddin, MS.c, Sp.FK), dan Moderator.

Implementasi Konsep Science and Technology Park di
Indonesia dalam rangka mendorong terbentuknya STP di Propinsi Sumatera Selatan
Kiri ke kanan: Asdep Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kemenristek (Sri Setiawati); Kabalitbangnovda Propinsi Sumatera Selatan (Ekowati Retnaningsih); Direktur Bandung Techno Park (Jangkung Raharjo); Ketua Bagian Farmakologi FK Universitas Sriwijaya (Prof. DR. dr. Muhammad Totong Kamaluddin, MS.c, Sp.FK), dan Moderator.

Bandung Techno Park (BTP) kembali menunjukkan komitmennya, bukan saja dalam mewujudkan ekosistem inovasi di Bandung Selatan, tetapi juga berperan aktif dalam membantu daerah-daerah di Indonesia dalam melahirkan inkubator bisnis dan Science & Technology Park di Indonesia.

Pada tanggal 29 September 2014 lalu dengan difasilitasi oleh Kementrian Riset dan Teknologi melalui Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) di Novotel Hotel, Palembang, dengan mengambil tema : Benchmarking : Implementasi Konsep Science and Technology Park di Indonesia dalam rangka mendorong terbentuknya STP di Propinsi Sumatera Selatan.

Hadir pada kesempatan tersebut sebagai nara sumber adalah :

  1. Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kementrian Riset dan Teknologi (Sri Setiawati),
  2. Direktur Bandung Techno Park (Jangkung Raharjo),
  3. Ketua Bagian Farmakologi FK Universitas Sriwijaya (Prof. DR. dr. Muhammad Totong Kamaluddin, MS.c, Sp.FK),
  4. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah Propinsi Sumatera Selatan (DR. Ekowati Retnaningsih).

Pada kesempatan tersebut, Direktur Bandung Techno Park yang juga sebagai salah satu Direktur Asia Science Park Association (ASPA), Jangkung Raharjo mengungkapkan pentingnya pembangunan STP dimaksudkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah, bukan nasional. Hanya kalau kita menengok negara-negara seperti Jepang, Korea dan Taiwan hampir di setiap propinsi bahkan Kabupaten/Kota memiliki teknopark, sehingga perekonomian daerah terakselerasi yang pada akhirnya memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi nasional negara tersebut.

Jangkung Raharjo yang pada kesempatan itu diminta memaparkan tentang Sharing Knowledge : Konsep, manajemen dan Aktifitas Bandung Techno Park, juga tidak bosan-bosannya menjelaskan paling tidak STP memiliki peran :

  1. Melaksanakan Research & Development (R&D),
  2. Menumbuhkan dan mengembangkan start-up Companies,
  3. Menarik Industri/pebisnis ke dalam kawasan.

Sehingga kalau ada yang mengatakan suatu kawasan yang memiliki akses wifi sudah bisa disebut Teknopark, itu adalah definisi yang menyesatkan.

Pada kesempatan tersebut, Jangkung yang juga sebagai dosen senior di Fakultas Teknik Elektro Telkom University menyampaikan bahwa Science & Technology Park harus didukung kalangan kampus. Hal ini dimaksudkan agar adanya riset dan inovasi yang berkelanjutan. Maka siapapun yang melahirkan teknopark nantinya baik Pemerintah (pusat/daerah), Perguruan Tinggi atau Industri harus berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi. Dan Bandung Techno Park ini sebagai contoh Teknopark yang diinisiasi oleh Kampus yaitu Institut Teknologi Telkom pada saat Jangkung Raharjo menjabat sebagai Dekan Fakultas Elektro dan Komunikasi. Jangkung memaparkan bagaimana sejarah pendirian BTP hingga lahirnya beberapa produk inovasi yang sudah sampai kepada masyarakat. Bagaimana BTP sudah bertransformasi dari R&D menjadi R&BD (Research & Business Development) juga dipaparkan Jangkung secara gamblang.

Di akhir paparannya, Jangkung menyampaikan harapannya, suatu saat nanti negeri ini akan memiliki Teknopark di setiap propinsi atau bahkan di setiap Kabupaten/Kota. Semoga saya masih sempat menyaksikan itu semua, tambahnya.

Sebelumnya, BTP aktif mendorong lahirnya Batam Techno Park, dilanjutkan dengan mendorong terbentuknya Tekno Park di Propinsi Kalimantan Timur dalam Focus Group Discussion (FGD) pada tanggal 9 Oktober 2013 yang digagas oleh Balitbangda Propinsi Kalimantan Timur dan didorong oleh Kementrian Riset dan Teknologi.

Dilanjutkan pada tanggal 25 Maret 2014 masih dimotori oleh Kementrian Riset dan Teknologi, diadakan FGD di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan Tema Benchmarking : Implementasi Konsep Science and Technology Park di Indonesia dalam rangka mendorong terbentuknya STP di Propinsi Sulawesi Selatan. Pada kesempatan tersebut hadir sebagai nara sumber adalah Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kemenristek, Direktur Bandung Techno Park dan Direktur Solo Techno Park.

Saat ini juga BTP bersama-sama dengan Kementrian Perindustrian sedang menginisiasi lahirnya Incubator Business di Kota Palu, Sulawesi Tengah.