Jakarta – Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) telah meluncurkan inisiatif untuk mengembangkan sumber pangan lokal, termasuk protein hewani, sebagai solusi untuk mengatasi masalah gizi dan stunting di daerah-daerah yang tertinggal. Salah satu langkah yang diambil adalah pengolahan bekicot sebagai alternatif makanan bagi anak-anak di Sumba Barat.
Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDT, Samsul Widodo, menyatakan bahwa bekicot mulai diperkenalkan kepada anak-anak meskipun makanan ini tidak umum dikonsumsi oleh masyarakat setempat secara tradisional.
“Di Sumba Barat, kami mencoba mengolah bekicot sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Meskipun secara tradisional mereka tidak mengkonsumsi bekicot, ternyata anak-anak menyukainya. Ini yang kami upayakan untuk dikembangkan,” ungkap Samsul dalam sebuah pernyataan daring pada Selasa, 20 Oktober 2026.
Samsul menambahkan bahwa pemanfaatan pangan lokal merupakan salah satu strategi untuk mengatasi masalah ketahanan pangan dan gizi di wilayah-wilayah yang tertinggal. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada sumber karbohidrat saja.
“Permasalahan utama yang dihadapi adalah kurangnya asupan protein hewani,” kata Samsul.
Dia juga menyoroti bahwa ketersediaan protein hewani masih menjadi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan di beberapa daerah tertinggal. Oleh karena itu, pengembangan sumber pangan alternatif sangat penting untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi mereka.
Contoh pengolahan bekicot yang dilakukan di Sumba Barat merupakan salah satu strategi untuk mengenalkan sumber pangan baru kepada anak-anak. Meskipun bekicot bukanlah bagian dari kebiasaan makan masyarakat setempat, anak-anak memberikan respons positif setelah makanan ini diolah.
Upaya pencegahan stunting sangat terkait dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak, termasuk asupan protein hewani yang cukup. Dengan mengembangkan pangan lokal, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di lingkungan mereka untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi yang lebih baik.
➡️ Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Penurunan Kunjungan Turis Mancanegara ke Bali
➡️ Baca Juga: Regional Bias Juri Internasional dengan 71 Persen Diskriminasi Tim SEA di Penilaian Teknis

