Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik semakin digalakkan sebagai langkah untuk mengurangi emisi karbon. Namun, Venu Srinivasan, Chairman Emeritus TVS Motor, berpendapat bahwa kendaraan listrik (EV) tidak seharusnya dipandang sebagai satu-satunya solusi untuk masalah lingkungan yang dihadapi saat ini.
Srinivasan mengungkapkan bahwa industri otomotif perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dalam mengeksplorasi berbagai teknologi kendaraan. Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak lingkungan, kualitas udara, dan kebutuhan konsumen sebagai prioritas utama dalam pengembangan kendaraan.
“Saya selalu berpegang pada prinsip bahwa kita harus bersikap netral terhadap teknologi dan memperhatikan dampak keseluruhan bagi negara, terutama dalam hal polusi, kualitas udara, dan lingkungan. Dengan demikian, EV bukanlah satu-satunya jalan keluar,” kata Srinivasan dalam sebuah konferensi di IFQM Symposium 2026.
Pernyataan ini disampaikan pada saat industri otomotif di India mengalami perkembangan yang signifikan dalam segmen kendaraan listrik. Khususnya, pertumbuhan adopsi EV terlihat jelas di pasar kendaraan roda dua dan tiga.
Meskipun demikian, Srinivasan berpendapat bahwa pertumbuhan kendaraan listrik sebaiknya terjadi secara alami. Ini berarti konsumen harus diberikan kebebasan untuk memilih teknologi kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka.
Ia menambahkan bahwa pendekatan yang netral terhadap teknologi memungkinkan industri untuk mempertimbangkan berbagai alternatif dalam mengurangi emisi, bukan hanya terfokus pada kendaraan listrik berbasis baterai.
“EV seharusnya dibiarkan tumbuh secara alami, di mana pilihan konsumen akan memiliki peran yang sangat penting,” ujarnya.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan oleh Srinivasan adalah penggunaan bahan bakar yang mengandung etanol. Ia berpendapat bahwa kebijakan pencampuran etanol dengan bensin dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan India terhadap impor bahan bakar.
Srinivasan meyakini bahwa kekhawatiran terkait penurunan performa kendaraan akibat penggunaan etanol tidak perlu menjadi masalah besar. Ia menyatakan bahwa dampak terhadap performa kendaraan akibat pencampuran etanol selama ini terbilang minimal.
“Penurunan performa yang terjadi sangat kecil. Saya rasa ini tidak seharusnya menjadi penghalang. Ingatlah bahwa Brasil telah menggunakan etanol secara luas,” ungkapnya.
Namun, ia juga mencatat bahwa konsumen mungkin memerlukan variasi jika kadar campuran etanol semakin meningkat. Hal ini berkaitan dengan material kendaraan yang mungkin memiliki tingkat kompatibilitas yang berbeda terhadap kandungan etanol dalam bahan bakar.
Srinivasan juga mencatat bahwa meskipun ada kemungkinan sedikit penurunan konsumsi bahan bakar akibat penggunaan etanol, hal ini seharusnya dilihat dari perspektif yang lebih luas. India perlu menilai keuntungan dari pengurangan ketergantungan pada impor bahan bakar serta mempertimbangkan dampak lingkungan yang lebih positif.
➡️ Baca Juga: Gus Salam Menolak Board of Peace: Skema Berisiko Menjadi Penindasan Baru
➡️ Baca Juga: Melacak HP Hilang dalam Keadaan Mati dengan Aplikasi Terpercaya dan Efektif

