Site icon BTP

Dampak Menghirup Abu Vulkanik pada Kesehatan Tubuh yang Perlu Anda Ketahui

Dampak Menghirup Abu Vulkanik pada Kesehatan Tubuh yang Perlu Anda Ketahui

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi di Selat Sunda pada malam hari, 4 September 2026, kembali menarik perhatian publik. Aktivitas vulkanik ini tidak hanya menghasilkan letusan yang mengesankan, tetapi juga memproduksi abu vulkanik yang terbawa angin dan menyebar ke berbagai daerah, termasuk sebagian besar wilayah Jakarta.

Berdasarkan pengamatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), citra satelit yang diambil pada 6 September 2026 menunjukkan adanya penyebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau pada dua ketinggian. Abu pada ketinggian sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut-selatan dan mencakup area DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat dan perairan di sekitarnya.

Sementara itu, abu yang terbang pada ketinggian sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya-barat laut, menjangkau sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga ke Samudra Hindia.

Kondisi ini juga berdampak pada sektor penerbangan, dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang sempat ditutup sementara pada dini hari Minggu sebagai langkah pencegahan terhadap dampak abu vulkanik di atmosfer.

Dalam situasi ini, masyarakat yang berada di daerah terdampak perlu waspada terhadap potensi risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Partikel abu yang berterbangan di udara dapat masuk ke dalam saluran pernapasan, terutama bagi mereka yang berada di luar ruangan.

Abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang serius.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), abu dan gas yang dihasilkan saat gunung berapi meletus dapat berbahaya bagi kesehatan. Jika seseorang menghirup partikel abu dalam jumlah yang signifikan, sistem pernapasan mereka bisa terpengaruh.

Selain abu, letusan gunung berapi juga melepaskan berbagai gas berbahaya, seperti sulfur dioksida, karbon dioksida, hidrogen sulfida, hidrogen klorida, hidrogen fluorida, radon, dan asam sulfat. Beberapa gas vulkanik bahkan tidak memiliki bau atau warna yang mudah dikenali, sehingga masyarakat bisa tidak menyadari jika mereka sedang terpapar.

Dampak dari paparan abu vulkanik bisa bervariasi, tergantung pada tingkat dan lama paparan tersebut. Gejala yang mungkin muncul antara lain iritasi pada mata dan saluran pernapasan, sakit kepala, pusing, hingga muntah, serta gangguan pernapasan.

Pada kasus paparan yang lebih berat, seseorang dapat mengalami napas yang cepat atau kesulitan bernapas. Paparan terhadap konsentrasi tertentu dari gas vulkanik juga dapat mengakibatkan kondisi yang lebih serius, termasuk kehilangan kesadaran dan bahkan kematian.

Dengan memahami dampak dari abu vulkanik pada kesehatan, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk melindungi diri mereka dan keluarga dari risiko yang mungkin timbul akibat fenomena alam ini.

➡️ Baca Juga: Sensor Photonic Engine iPhone 15 Proses 24 Frame Sekaligus, Ini yang Terjadi Saat Pencet Tombol

➡️ Baca Juga: Mohammad Zaki Ubaidillah Menangkan Thailand Masters 2026 Setelah Tundukkan Wakil Tuan Rumah

Exit mobile version