Para produsen pertanian di seluruh Uni Eropa (UE) telah mengeluarkan peringatan mengenai risiko gagal panen yang dapat berujung pada krisis pangan. Gelombang panas ekstrem yang terus menerus melanda Benua Biru selama musim panas ini menjadi penyebab utama kekhawatiran tersebut. Para ekonom memperkirakan bahwa situasi ini akan berpotensi memicu lonjakan harga pangan dalam waktu dekat.
Juni dan Juli 2023 tercatat sebagai dua bulan terpanas dalam sejarah pengukuran suhu di Eropa Barat, menurut data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa. Lembaga tersebut juga memberi sinyal bahaya mengenai kemungkinan gelombang panas yang berkepanjangan yang dapat memengaruhi hampir seluruh wilayah Eropa hingga bulan Agustus dan September.
Di Prancis, yang merupakan salah satu negara penghasil biji-bijian terbesar di Uni Eropa, cadangan air tanah di banyak daerah mengalami penurunan yang signifikan pada awal bulan Agustus, menurut hasil survei geologi nasional. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap hasil pertanian yang akan datang.
Prince de Bretagne, sebuah koperasi petani besar yang berada di Brittany, baru-baru ini memberi peringatan tentang potensi krisis sayuran yang bisa dianggap “bersejarah”. Mereka memperkirakan penurunan hasil panen untuk kacang polong mencapai 40 persen, brokoli hingga 60 persen, dan artichoke antara 50 hingga 100 persen selama musim panas ini.
Eric Legras, Presiden Unilet, asosiasi utama yang mewakili produsen sayuran kalengan dan beku di Prancis, menegaskan bahwa gelombang panas ekstrem juga berdampak pada wilayah utara dan barat daya negara tersebut. Ia menganggap situasi ini sebagai krisis yang “luar biasa” yang tidak dapat diabaikan.
Di sektor peternakan, para pelaku industri juga mengingatkan tentang meningkatnya kekurangan produksi pakan ternak menjelang musim dingin, seperti yang dilaporkan oleh media. Hal ini menunjukkan bahwa dampak panas ekstrem tidak hanya terbatas pada tanaman, tetapi juga menjangkau sektor peternakan.
Komite Nasional Prancis untuk Promosi Telur memperkirakan bahwa gelombang panas ini telah menurunkan produksi telur sekitar satu juta butir per hari. Selain itu, peternakan unggas juga melaporkan jumlah kematian ternak yang meningkat, menambah beban bagi para peternak.
Sementara itu, di bagian utara Italia, yang dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil beras utama di Eropa, kekurangan air telah memberikan dampak serius pada lahan pertanian. Coldiretti, asosiasi petani terbesar di Italia, melaporkan bahwa banyak sawah mengalami kerusakan total akibat kekeringan, dengan tanaman padi yang mengering dan mati.
Di Spanyol, para petani melaporkan adanya penurunan signifikan dalam hasil panen serealia dan kekurangan pakan ternak. Di Jerman, Asosiasi Petani memperingatkan bahwa produksi biji-bijian diperkirakan akan menurun sebesar 7 persen atau setara dengan 3,3 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu, menunjukkan dampak luas dari cuaca ekstrem di seluruh Eropa.
➡️ Baca Juga: Lisa Blackpink Stars in Latest Romantic Comedy Film on Netflix
➡️ Baca Juga: Uji Daya Tahan Atlet dalam Rangkaian Laga Berat Nasional Desember 2023

