Eddy Soeparno Mengungkapkan US$1 Miliar Siap Investasi Energi Terbarukan dengan Syarat Tertentu

Jakarta – Eddy Soeparno, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), baru-baru ini mengungkapkan adanya potensi pembiayaan sebesar US$1 miliar untuk proyek energi terbarukan di Indonesia. Namun, meskipun minat investor menunjukkan angka yang signifikan, hal tersebut tidak menjamin bahwa proyek-proyek energi ini dapat segera terealisasi.
Eddy mengemukakan bahwa Indonesia masih perlu memperkuat kepastian investasi agar potensi dana yang ada dapat diwujudkan menjadi proyek yang konkret dan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Eddy dalam diskusi panel di ISF 2026 yang mengangkat tema “Catalysing National Growth: The Strategic Role of Development Finance in Indonesia’s Investment Agenda,” yang berlangsung di Grand Ballroom Kempinski Jakarta pada tanggal 7 Oktober 2026.
Menurut Eddy, minat dari investor di sektor energi di Indonesia cukup tinggi. Hal ini terlihat dari berbagai pertemuan yang diadakan dengan investor global dalam berbagai forum internasional yang telah berlangsung.
Dia mencatat bahwa interaksi dengan investor global, seperti yang terjadi selama London Climate Action Week dan IPA Convention, menunjukkan adanya ketertarikan untuk membiayai proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia.
Potensi investasi ini juga teridentifikasi melalui diskusi yang dilakukan dengan beberapa lembaga keuangan melalui Global Financial Alliance for Net Zero (GFANZ).
Dari rangkaian pembahasan tersebut, Eddy menyebutkan bahwa terdapat sekitar US$1 miliar yang dapat diinvestasikan untuk proyek energi terbarukan dengan kapasitas mencapai 1,2 GW.
Namun, dia menegaskan bahwa tantangan terbesar bagi Indonesia bukan semata-mata mencari sumber pendanaan.
“Masalah yang dihadapi bukan hanya tentang ketersediaan modal. Tantangan utama kita adalah bagaimana mengkonversi minat investasi tersebut menjadi proyek nyata yang dapat berjalan,” ujar Eddy.
Untuk mewujudkan minat investasi menjadi proyek yang konkret, Eddy mengusulkan tiga langkah prioritas.
Langkah pertama adalah mempercepat pelaksanaan proyek. Dia mencatat bahwa pembagian kewenangan harus lebih jelas. Selain itu, proses pengambilan keputusan perlu memiliki batas waktu yang pasti dan dapat diprediksi.
Langkah kedua adalah memperkuat kepastian investasi melalui kebijakan yang konsisten serta kerangka hukum yang mampu memberikan jaminan bagi investasi jangka panjang.
Langkah ketiga adalah menjaga daya saing iklim investasi. Hal ini mencakup upaya untuk memastikan bahwa ketentuan fiskal dan persyaratan administratif tetap sejalan dengan aspek ekonomi dari proyek.
Eddy menyatakan bahwa ketiga aspek ini sangat penting karena investor memerlukan kepastian mengenai proses yang harus dilalui sebelum mereka berkomitmen untuk menanamkan modal dalam proyek-proyek yang memiliki jangka panjang.
➡️ Baca Juga: Marcus Rashford Menjadi Pemain Pengganti Paling Produktif di Eropa Bersama Barcelona
➡️ Baca Juga: Daftar Negara yang Rayakan Idul Fitri pada Hari Sabtu, 21 Maret 2026 Selain Indonesia




