Site icon BTP

Gunung Anak Krakatau Masih Dalam Fase Erupsi, Waspadai Potensi Bahaya Sekarang

Gunung Anak Krakatau Masih Dalam Fase Erupsi, Waspadai Potensi Bahaya Sekarang

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menginformasikan bahwa Gunung Anak Krakatau (GAK) saat ini masih berada dalam fase erupsi. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko yang dapat ditimbulkan.

Menurut Wahyu Hidayat, Analis Bencana dari BPBD Provinsi Lampung, Gunung Anak Krakatau masih aktif mengalami erupsi dan fase erupsinya secara keseluruhan belum dapat dinyatakan berakhir. “Kewaspadaan harus selalu ditingkatkan, mengingat kondisi saat ini masih dalam fase erupsi,” tegasnya di Bandarlampung pada hari Rabu.

Berdasarkan informasi yang diterima dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Selasa (8/9), Gunung Anak Krakatau telah mengalami beberapa kali erupsi. Salah satu kejadian erupsi tercatat berlangsung pada pukul 05.00 WIB dan berlangsung selama 15 detik.

Wahyu menambahkan bahwa arah angin saat ini masih mengarah ke barat laut dan barat daya, di mana abu vulkanik yang dihasilkan diharapkan tidak mengarah ke daratan Lampung.

Ia menjelaskan bahwa terdapat dua faktor utama yang dapat menyebabkan abu vulkanik terpapar hingga mencapai wilayah daratan Provinsi Lampung.

“Faktor pertama adalah ketinggian erupsi yang dihasilkan, dan faktor kedua adalah arah angin yang berhembus,” jelasnya.

Dari penjelasannya, dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang dirasakan oleh masyarakat di beberapa daerah seperti Kabupaten Lampung Selatan, Kota Bandarlampung, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, dan Lampung Barat adalah efek samping dari arah angin yang mengarah ke barat daya dan barat laut.

“Karena arah angin tersebut, sebagian kecil dari serpihan abu terbawa ke enam kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Namun, beruntungnya, sebagian besar justru tertiup ke arah samudra,” ungkapnya.

Wahyu berharap agar kedua faktor, yakni ketinggian erupsi dan arah angin, tidak terjadi bersamaan, sehingga potensi dampak dapat diminimalisir.

“Kita semua berharap dan berdoa agar kedua elemen ini tidak berkesinambungan, yaitu ketinggian erupsi dan arah angin yang mengarah ke daratan kita atau ke arah utara dari Gunung Anak Krakatau, untuk mengurangi dampak sekunder berupa abu. Namun, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan, karena fase erupsi masih berlangsung,” tutupnya.

➡️ Baca Juga: Kontribusi Open Source: Berapa Banyak Pengembang Kernel Linux yang Benar-Benar Dibayar?

➡️ Baca Juga: China Berikan Dukungan Finansial dan Suku Cadang Rudal untuk Iran dalam Konflik dengan AS-Israel

Exit mobile version