Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dipastikan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026.
Pernyataan ini disampaikan di tengah situasi meningkatnya harga minyak mentah dunia yang berpotensi menambah beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sedang melakukan perhitungan terkait dampak dari kenaikan harga minyak mentah Indonesia, atau Indonesian Crude Price (ICP), terhadap kebutuhan anggaran subsidi energi.
“Kami sedang memantau terus perkembangan harga ICP global yang terus meningkat. Apabila harga ICP global terus naik, kemungkinan besar akan diperlukan penambahan dana subsidi. Namun, pemerintah berkomitmen untuk menjaga agar harga BBM bersubsidi tidak berubah, tidak ada kenaikan,” ungkap Bahlil pada 22 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa harga ICP saat ini berada di level US$92 per barel, yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan asumsi dalam APBN yang hanya sebesar US$70 per barel.
Meski harga minyak dunia terus mengalami lonjakan, pemerintah memperkirakan bahwa harga minyak mentah masih memiliki potensi untuk tetap berada di bawah US$100 per barel jika tren saat ini berlanjut.
Kenaikan harga minyak global ini tetap menjadi perhatian serius pemerintah karena dapat meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi energi. Namun, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk mempertahankan stabilitas harga BBM bersubsidi.
“Oleh karena itu, kami optimis. Untuk BBM bersubsidi, Insya-Allah tidak akan ada kenaikan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil setelah mengikuti Sidang Kabinet Paripurna yang membahas evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga memaparkan pencapaian sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), terutama terkait dengan penerimaan negara dari sektor batu bara yang diprediksi akan melampaui target yang sudah ditetapkan.
Menurutnya, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor batu bara yang ditargetkan sebesar Rp133 triliun diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp160 triliun.
Sementara itu, devisa dari ekspor batu bara yang ditargetkan mencapai US$27 miliar juga diproyeksikan akan melampaui angka US$30 miliar.
➡️ Baca Juga: Laptop Gaming Terjangkau untuk Pelajar dengan Performa Tinggi untuk Semua Game 2026
➡️ Baca Juga: Aldi Taher Ungkap Ketakutan Terbesarnya Selain Kematian: Takut Neraka Allah

