Site icon BTP

IHSG Menguat ke 6.109, Investor Perhatikan Sentimen Global di Awal Pekan Ini

IHSG Menguat ke 6.109, Investor Perhatikan Sentimen Global di Awal Pekan Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren positif dengan pembukaan yang menguat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Di awal sesi, IHSG terangkat 15,56 poin atau 0,26 persen, mencapai angka 6.109,32.

Penguatan juga terlihat pada indeks LQ45, yang mencakup 45 saham unggulan. Indeks ini naik 1,58 poin atau 0,26 persen, mencapai level 603,25.

Kenaikan yang terjadi di awal pekan ini merupakan kelanjutan dari penguatan IHSG yang terjadi pada penutupan perdagangan sebelumnya, yaitu Jumat (9/10/2026).

Pada penutupan tersebut, IHSG ditutup dengan kenaikan 62,48 poin atau 1,04 persen, berada di posisi 6.093,76, sejalan dengan penguatan yang terjadi di bursa saham Asia. Indeks LQ45 juga mencatatkan peningkatan sebesar 8,03 poin atau 1,35 persen menuju level 601,67.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, mengungkapkan bahwa penguatan IHSG pada akhir pekan lalu terjadi meskipun terdapat tekanan dari faktor eksternal.

“IHSG berhasil menguat menjelang akhir pekan, meskipun dihadapkan pada tekanan dari luar. Penguatan ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi domestik tetap terjaga di tengah tantangan global,” ungkapnya.

Sejumlah faktor global menjadi perhatian utama para investor, termasuk perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, kekhawatiran terkait prospek pendapatan perusahaan kecerdasan buatan (AI), serta pembicaraan perdagangan antara China dan Uni Eropa (UE).

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak akan ada serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan pada 3 November 2026, dengan alasan adanya dialog yang produktif dengan Teheran. Pernyataan ini berlawanan dengan sikapnya sehari sebelumnya yang sempat mempertimbangkan opsi serangan.

Meskipun demikian, AS tetap mempertahankan blokade maritim terhadap Iran dan menegaskan komitmennya untuk tidak membiarkan negara tersebut memiliki senjata nuklir.

Di sektor teknologi, kekhawatiran mengenai prospek pendapatan OpenAI turut memberi dampak negatif terhadap sentimen pasar. Laporan pendapatan yang mengecewakan dari perusahaan tersebut memicu kembali ketakutan akan munculnya gelembung dalam investasi di sektor AI.

Para investor mulai mempertanyakan prospek pengembalian investasi di sektor teknologi, yang berujung pada tekanan jual terhadap saham-saham di sektor tersebut.

Pasar juga mencermati dengan saksama pertemuan antara China dan Uni Eropa yang berlangsung di Beijing, di mana kedua belah pihak berupaya mencegah terjadinya perang dagang. Pembicaraan ini berlangsung di tengah persoalan defisit perdagangan barang UE dengan China dan kebijakan Beijing yang membatasi ekspor mineral langka serta mineral penting lainnya.

Dari sisi domestik, sentimen ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda stabilitas. Survei Bank Indonesia mengungkapkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) untuk bulan September 2026 berada pada level optimis di angka 118,1. Selain itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,3 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan 1,1 persen yang tercatat pada Juli 2026.

➡️ Baca Juga: Tiga WNI Ditetapkan Sebagai Tersangka Tawarkan Haji Ilegal di Makkah

➡️ Baca Juga: Tanggal Terakhir Perpanjangan SIM yang Sudah Mati Tanpa Harus Mengajukan Baru

Exit mobile version