Intermittent Fasting Sedang Populer, Dokter Ingatkan Risiko yang Perlu Diketahui

Intermittent fasting kini tengah menjamur sebagai salah satu metode diet yang banyak diadopsi di berbagai belahan dunia. Metode ini unik karena lebih menekankan pada waktu makan ketimbang pada jenis makanan yang dikonsumsi.
Banyak individu yang beralih ke pendekatan ini mengingat efektivitasnya dalam menurunkan berat badan, mendukung metabolisme tubuh, serta potensi manfaat kesehatan lainnya. Namun, para profesional medis memperingatkan bahwa intermittent fasting mungkin tidak sesuai untuk semua orang. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai hal ini.
Intermittent fasting secara sederhana mengatur waktu makan dalam periode tertentu. Beberapa orang memilih untuk makan dalam jangka waktu tertentu setiap hari, sementara yang lain memilih untuk berpuasa secara total selama satu atau beberapa hari.
Ahli gizi yang terdaftar, Tara Collingwood, menyatakan bahwa lebih dari 13 persen populasi di Amerika Serikat pernah mencoba metode intermittent fasting. Banyak dari mereka melakukannya dengan sadar sebagai bagian dari program diet, sementara sebagian lainnya mungkin telah menerapkannya secara tidak sengaja.
Salah satu bentuk intermittent fasting yang paling umum adalah time-restricted eating (TRE), di mana individu membatasi waktu makannya dalam rentang tertentu, misalnya hanya delapan jam dalam sehari.
Meskipun metode ini dapat membantu seseorang mengurangi asupan makanan, penelitian terbaru dari Jerman menunjukkan bahwa pola makan tersebut tidak meningkatkan kesehatan metabolik jika tidak diimbangi dengan pengurangan kalori.
Menurut Collingwood, waktu makan memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan secara keseluruhan. “Jika seseorang makan lebih larut di siang atau malam hari, hal itu akan sedikit lebih merugikan bagi metabolisme dan meningkatkan risiko penyakit,” ungkapnya, sebagaimana dilaporkan oleh ABC.
Lebih jauh lagi, studi yang diterbitkan oleh American Heart Association menemukan bahwa pola makan yang dibatasi selama delapan jam per hari dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 91 persen.
Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dalam durasi yang lebih panjang, seperti tidak makan selama empat hari atau lebih, mungkin dapat meningkatkan fungsi kognitif. Namun, puasa singkat dianggap kurang efektif, terutama bagi individu yang sudah mengalami penurunan fungsi kognitif.
Isu lain yang menjadi perhatian adalah efektivitas dalam menurunkan berat badan dalam jangka panjang. Collingwood menekankan bahwa dampak jangka panjang dari intermittent fasting masih belum sepenuhnya dipahami.
➡️ Baca Juga: SIM Keliling 2 Maret 2026: Cek Jadwal Layanan untuk Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Bandung
➡️ Baca Juga: Tweak Performa iOS 17.5 Beta Bikin Baterai Tahan 20 Persen Lebih Lama, Cara Installnya Gampang Banget




