Site icon BTP

Nasabah PNM Mekaar Manfaatkan Sampah Pasar untuk Ciptakan Usaha Beromzet Jutaan

Nasabah PNM Mekaar Manfaatkan Sampah Pasar untuk Ciptakan Usaha Beromzet Jutaan

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 membawa dampak besar bagi banyak orang, termasuk Zulhaida Sitanggang. Sebagai seorang guru, ia mengalami pemotongan gaji yang signifikan akibat ketidakpastian yang melanda institusi pendidikan tempatnya mengajar. Dalam situasi yang penuh tekanan ini, Zulhaida mengambil keputusan yang berat untuk meninggalkan profesinya dan mencari cara baru untuk bertahan hidup dari rumah.

Perjalanannya tidak berjalan mulus. Zulhaida awalnya mencoba berjualan tanaman secara online, namun usaha itu tidak bertahan lama dan segera meredup. Namun, sebuah kesempatan muncul dari sebuah komunitas alumni yang mengumpulkan barang-barang bekas untuk disalurkan kepada masyarakat yang terdampak pandemi. Dari sinilah titik balik dalam hidup Zulhaida dimulai.

Saat melihat tumpukan gelas dan piring yang sudah tak terpakai, Zulhaida menemukan potensi yang tidak disadari orang lain. Dengan kreativitasnya, ia menghias barang-barang tersebut menggunakan tali dari kain bekas dan kemudian menjualnya secara daring. Sebagian dari hasil penjualannya ia sumbangkan untuk kegiatan amal, menambah nilai positif pada usahanya.

Dua gelas hias pertamanya terjual seharga seratus ribu rupiah, sebuah langkah awal yang memicu rasa ingin tahunya untuk bereksperimen dengan bahan lainnya. Ketertarikan ini membawanya pada ide untuk membuat rangkaian bunga dari kulit jagung, terinspirasi dari kunjungannya ke rumah saudaranya.

Zulhaida memutuskan untuk belajar secara mandiri melalui video tutorial, sambil mengumpulkan kulit jagung dari tempat sampah pasar tradisional. Meskipun percobaan pertamanya tidak sempurna, satu unggahan di media sosial berhasil menarik perhatian pembeli dan membuka jalan bagi keberlangsungan usahanya.

Mendapatkan perhatian dari seorang perajin senior menjadi momen penting dalam perjalanannya. Dengan bimbingan dari mentor tersebut, Zulhaida belajar memperbaiki teknik pengolahan agar hasil kerajinan yang dihasilkan lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur. Usaha yang dinamainya Aida Craft mulai dikenal, terutama setelah ia membagikan rangkaian bunganya di acara pernikahan dan ulang tahun sebagai bentuk promosi, yang kemudian menarik perhatian media lokal.

Zulhaida sempat merasa putus asa ketika karyanya diremehkan di beberapa pameran, terutama ketika menerima kritik karena menjual produk dari hasil olahan sampah. Meskipun memiliki latar belakang sarjana dan pengalaman sebagai guru, ketekunan dan semangatnya tidak pudar. Usahanya membawanya ke dalam jaringan Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia, di mana ia mengikuti program pembinaan UMKM selama tiga bulan, dan akhirnya meraih sertifikasi BNSP sebagai pelatih kerajinan tangan.

➡️ Baca Juga: <p>Bagaimana Tim Cook Menjelaskan Penggunaan Intelijen Apple yang Inovatif oleh Pengguna</p>

➡️ Baca Juga: New York Adakan Upacara Peringatan 25 Tahun Serangan 11 September dengan Khidmat

Exit mobile version