Tantangan Global seperti segera diberlakukannya kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC) pada 31 Desember 2015, merupakan pesan pembuka dalam Orasi Ilmiah yang berjudul “Peningkatan Peran Perguruan Tinggi dalam Menghasilkan Technopreneur Muda Kreatif secara Berkelanjutan” pada wisuda lulusan STMIK Catur Insan Cendekia (CIC) Cirebon pada tanggal 28 Oktober 2014 yang disampaikan oleh Jangkung Raharjo, Direktur Bandung Techno Park.

Dalam orasinya, Jangkung Raharjo menguraikan secara rinci tentang tantangan global yang harus dihadapi, beberapa Program Pemerintah, Sekilas Potret Indonesia baik mengenai Sumber Daya Alam nya maupun Sumber Daya Manusia nya, perlunya akselerasi penumbuhan program entrepreneurship dan technopreneurship dan tantangan dalam pengembangannya serta Peran perguruan Tinggi.

IMG_6105IMG_6102IMG_6122(1)

Jangkung Raharjo yang juga Dosen di Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom menyampaikan ciri-ciri negara maju dibanding negara berkembang antara lain: (i). Strategi bersaing melalui keunggulan teknologi, sehingga mampu menguasai teknologi karena rendahnya Sumber Daya Alam (SDA); (ii). Fokus pada penguasaan R&D teknologi. (iii). Basis pengembangan ekonominya adalah pengetahuan (Knowledge-Based Economy). (iv). Pendidikan negara maju mendasarkan pada kemampuan anak bangsa untuk mandiri dan berinovasi berbasiskan penciptaan teknologi sebagai keunggulan bersaingnya yg disebut dengan pendidikan entrepreneurship atau technopreneurship.

Pada kesempatan tersebut, Jangkung Raharjo yang juga mantan Dekan Fakultas Elektro & Komunikasi Institut Telknologi Telkom (2006-2010), mengatakan bahwa Indonesia adalah negara terkaya di dunia, hal ini dapat dilihat dari Sumber Daya Alam nya yang melimpah ruah yang hampir semuanya masuk dalam “10 besar dunia”. Namun sayangnya hal ini tidak diikuti dengan peningkatan daya saing baik dalam hal inovasi maupun Sumber Daya Manusianya. Sehingga beberapa permasalahan yang menuntut perguruan tinggi turut secara aktif memberikan solusi antara lain : (i). Tingginya jumlah pengangguran intelektual, semakin tinggi pendidikan semakin rendah minat berwirausaha; (ii). Masih kurangnya penelitian berbasis inovasi yang dapat dikembangkan menjadi bisnis baru; (iii). Kurangnya keselarasan arah kegiatan dan topik penelitian dan PPM Perguruan Tinggi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna : masyarakat dan industri; (iv). Kurangnya jejaring Perguruan Tinggi dengan dunia usaha dan pemerintah. Dari berbagai permasalahan tersebut, salah satu yang akan menjawab permasalahan adalah menumbuhkembangkan jiwa-jiwa entrepreneur atau technopreneur di kalangan masyarakat, khususnya pemuda.

Perguruan tinggi harus mulai “berani” untuk melakukan reorientasi akademik, riset dan pengabdian masyarakat untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan masyarakat dan mendorong komersialisasi/difusi teknologi serta penumbuhan dan pengembangan start up. Perguruan tinggi bersama-sama institusi terkait perlu memiliki rencana dan kebijakan jangka panjang dalam pengembangan pohon penelitian, penyediaan lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya kegiatan riset, pengembangan, dan bisnis teknologi yang berkelanjutan. Dengan adanya pohon penelitian ini diharapkan akan berlangsung riset dan pengembangan produk inovasi yang berkelanjutan yang dilanjutkan dengan inkubasi teknologi, kemudian inkubasi bisnisnya hingga beberapa produk inovasi sampai kepada pasar/masyarakat, sekaligus memunculkan para spin off yang akan memulai bisnis baru sebagai technopreneur.

Di akhir orasinya, Jangkung Raharjo sekali lagi menandaskan bahwa Indonesia sebagai negara terkaya di dunia, namun menjadi target pasar berbagai produk dari negara lain, sementara Perguruan Tinggi memiliki potensi dan peranan penting sebagai supplier berbagai teknologi untuk memberikan nilai tambah (inovasi) pada sumberdaya alam agar menjadi produk-produk bernilai ekonomi tinggi. Semakin berkurangnya lapangan kerja hendaknya Perguruan Tinggi mengarahkan mahasiswa untuk menjadi job creator sebagai alternatif terhadap job seeker, dan pilihan itu adalah menumbuhkan technopreneurship.