Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menjadikan Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran yang termahal di dunia. Lonjakan dramatis dalam premi asuransi risiko perang menjadi penyebab utama fenomena ini, mengingat pentingnya selat tersebut bagi perdagangan minyak global.
Sebelum konflik ini, Selat Hormuz mengangkut sekitar 20 persen dari total minyak mentah dunia melalui jalur laut. Namun, serangan balasan Iran terhadap kapal tanker dan keputusan perusahaan asuransi serta pelayaran Barat untuk menarik diri telah hampir menghentikan lalu lintas maritim di kawasan tersebut.
Di masa sebelum krisis, biaya asuransi risiko perang untuk kapal tanker yang melintasi Teluk hanya berkisar antara 0,02 hingga 0,05 persen dari nilai kapal. Namun, sejak dimulainya perang pada 28 Februari 2026, premi asuransi meroket menjadi antara 0,5 hingga 1 persen atau bahkan lebih.
Lonjakan premi asuransi untuk satu pelayaran kini berada di rentang antara US$600.000 hingga US$1,2 juta, meningkat drastis dari sekitar US$40.000 untuk kapal tanker biasa. Setidaknya 16 kapal telah mengalami serangan sejak konflik dimulai, menunjukkan betapa berbahayanya situasi pelayaran saat ini.
Dampak dari lonjakan harga ini akan segera dirasakan oleh konsumen, terutama di pom bensin atau supermarket dalam beberapa minggu mendatang. Pemerintah AS telah berkomitmen untuk mengerahkan pengawal angkatan laut ke Selat Hormuz, sementara Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada negara-negara pengguna minyak untuk turut berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur laut tersebut.
Meskipun pengawalan angkatan laut akan dilakukan, perusahaan-perusahaan tetap akan menganggap jalur perairan ini sebagai area operasi yang berisiko tinggi. Christopher Long, seorang profesional dari perusahaan keamanan maritim Neptune P2P Group, menyatakan hal ini dalam sebuah wawancara, menekankan pentingnya kewaspadaan di perairan tersebut.
Sementara itu, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dapat diakses oleh kapal-kapal yang bersahabat. Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, menyebutkan bahwa dialog dengan Iran adalah cara paling efektif untuk memulihkan kembali aktivitas transit di kawasan tersebut.
Rusia, sebagai salah satu eksportir minyak mentah terbesar, tidak terlibat dalam konflik ini dan tidak bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman minyaknya. Minyak campuran Urals yang diproduksi Rusia mencapai pasar India melalui Laut Baltik dan Laut Hitam, kemudian melewati Terusan Suez dan Laut Merah, sepenuhnya menghindari risiko yang ada di Teluk Persia.
Walaupun Rusia dan India telah menjalin kerjasama dengan Iran untuk mengembangkan Koridor Transportasi Internasional Utara-Selatan (INSTC) sebagai jalur alternatif, saat ini pemanfaatan jalur tersebut untuk pengiriman minyak mentah dalam jumlah besar masih sangat minim.
➡️ Baca Juga: Diskon Menarik di Ratusan Mal Menyambut Ramadhan dan Lebaran 2026, Simak Info Lengkapnya!
➡️ Baca Juga: Tower Gaming Masa Depan: Build Super Ringan untuk 4K 240Hz Tanpa Putus

