Site icon BTP

Skandal Emas Digital China: 10.000 Nasabah Terjebak, Emas Fisik Hilang

Skandal Emas Digital China: 10.000 Nasabah Terjebak, Emas Fisik Hilang

Pasar keuangan China dikejutkan oleh skandal besar setelah runtuhnya platform perdagangan emas digital JieWoRui (JWR Group), yang menyebabkan 10.000 investor tidak dapat menarik dana mereka, sementara emas fisik yang dijanjikan ternyata tidak tersedia.

Menurut laporan dari Pos Pagi Tiongkok Selatandana yang dibekukan mencapai lebih dari 10 miliar RMB, setara dengan sekitar Rp24 triliun. Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa total kerugian bisa mencapai 19 miliar dolar AS, menjadikan insiden ini sebagai salah satu skandal emas digital terbesar di China dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan platform ini runtuh terjadi di tengah tren kenaikan harga emas global. Selama beberapa bulan terakhir, harga emas telah mencapai rekor tertinggi, mendorong banyak investor ritel di China untuk berinvestasi dalam emas digital melalui aplikasi online berkat kemudahan transaksi, nominal pembelian yang fleksibel, dan janji likuiditas tinggi.

Namun, saat harga emas terus melambung, banyak investor yang berupaya untuk menarik dana mereka dan meminta pengiriman emas fisik. Tekanan likuiditas yang muncul membuat JWR tidak mampu memenuhi kewajibannya, dan perusahaan hanya dapat menawarkan kompensasi sekitar 20 persen dari total dana investasi nasabah.

“Ketika harga emas menaik, banyak pelanggan berusaha mencairkan uang mereka, yang membuat perusahaan terjebak dalam krisis likuiditas dan tidak mampu memenuhi permintaan penarikan,” lapor Pos Pagi Tiongkok Selatanpada Kamis (29/1/2026).

Keberadaan Cadangan Emas Dipermasalahkan

Investigasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar emas yang terdaftar dalam sistem JWR sebenarnya hanya berbentuk data digital dan tidak memiliki cadangan fisik yang memadai. Ini berarti, emas yang diyakini tersedia oleh para investor ternyata tidak ada dalam bentuk fisik.

Laporan dari Peringatan Penemuan mengungkapkan bahwa runtuhnya JWR menunjukkan adanya kekurangan serius dalam pengawasan keuangan di China, karena perdagangan logam mulia digital berada dalam area regulasi yang kompleks, yang bersinggungan dengan aturan perbankan, komoditas, dan fintech.

“Keruntuhan JWR Group memicu krisis dalam perdagangan logam mulia terbesar di China dan menyebabkan lebih dari 10.000 investor kehilangan miliaran dolar. Skandal ini menunjukkan celah signifikan dalam pengawasan keuangan yang memungkinkan platform tanpa lisensi mengeksploitasi kelemahan regulasi,” tulis Peringatan Penemuan.

Platform seperti JWR beroperasi di area abu-abu dalam regulasi. Mereka bukan bank, bukan pialang sekuritas, dan bukan pedagang komoditas berlisensi. Model bisnis mereka sebagai perantara digital membuat mereka tidak diharuskan memenuhi kewajiban modal dan cadangan emas sebagaimana institusi keuangan resmi.

Ketika terjadi penarikan massal, ketidaksesuaian antara kewajiban dan cadangan langsung terlihat. Kepercayaan runtuh, kepanikan menyebar, dan efek domino pun tak terhindarkan.

Dampak dan Respons Pemerintah

Dampak langsung dari keruntuhan JWR telah terasa di pasar. Kepercayaan terhadap emas digital merosot tajam, sedangkan permintaan untuk emas batangan fisik meningkat. Investor kini lebih memilih aset yang dapat secara fisik disimpan, ketimbang klaim digital belaka.

Pemerintah China bertindak cepat, menindak platform emas digital berisiko dan memperketat pengawasan perdagangan emas daring. Langkah ini menjadi pengingat bahwa inovasi dalam keuangan tanpa pengawasan yang memadai dapat menjadi ancaman sistemik.

Pelajaran bagi Investor di Indonesia

Skandal JWR menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Emas digital sering dipromosikan sebagai instrumen yang modern, praktis, dan aman, tetapi keamanannya sangat bergantung pada transparansi cadangan, audit, dan tata kelola platform tersebut.

Regulasi di Indonesia berada di bawah pengawasan OJK dan Bappebti. Meski demikian, risiko tetap ada jika tata kelola platform lemah atau cadangan fisiknya tidak diaudit secara transparan. Investor perlu memastikan bahwa emas benar-benar tersedia dalam bentuk fisik, dapat ditarik kapan saja, dan mekanisme penyimpanan serta auditnya jelas. Kemudahan aplikasi dan promosi agresif tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan.

Kasus JieWoRui mengingatkan kita akan pelajaran klasik investasi: ketika kepercayaan hilang, sistem bisa runtuh dalam waktu singkat. Emas memang merupakan tempat yang aman untuk berinvestasi, tetapi dalam bentuk digital tanpa dukungan fisik yang jelas, bisa menjadi sumber kerugian besar.

Di tengah ketidakpastian yang ada secara global dan tren digitalisasi keuangan, keseimbangan antara inovasi dan pengawasan sangat penting. Tanpa itu, skandal emas digital seperti yang terjadi di Shenzhen bisa saja terjadi di tempat lain.

➡️ Baca Juga: GPU 16GB Bisa Lebih Cepat dari 24GB untuk Gaming? Ini Alasan Nyata yang Perlu Kamu Pahami

➡️ Baca Juga: Nvidia Dgx Spark Mini Ai Supercomputer Bisa Train Model Llama 7b Di Rumah Pribadi

Exit mobile version