depo qris depo 10k
bisnis

Menkeu Purbaya Rincikan Defisit APBN Rp240,1 Triliun pada Maret 2026

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun pada akhir kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut setara dengan 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menjelaskan bahwa defisit ini disebabkan oleh pengeluaran negara yang melebihi jumlah pendapatan yang diterima.

Pendapatan negara tercatat mengalami pertumbuhan sebesar Rp574,9 triliun, yang mencerminkan kenaikan sebesar 10,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong terutama oleh penerimaan pajak yang mencapai Rp394,8 triliun, dengan kenaikan yang signifikan sebesar 20,7 persen.

Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai berhasil mencatatkan angka Rp67,9 triliun. Di sisi lain, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menunjukkan penurunan sebesar 3 persen, dengan total mencapai Rp112,1 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Belanja negara mengalami peningkatan tajam, mencapai Rp815 triliun, atau tumbuh sebesar 31,4 persen secara tahunan. Lonjakan belanja ini menandakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mendukung berbagai program pemerintah.

Menanggapi situasi ini, Purbaya meminta publik untuk tidak terkejut dengan angka defisit yang muncul. Dia menjelaskan bahwa struktur APBN memang dirancang dengan skema defisit sejak awal, untuk mengakomodasi pengeluaran yang lebih besar.

“Jadi, ketika kita menghadapi defisit, masyarakat tidak perlu terkejut. Anggaran kita memang dirancang untuk menciptakan defisit. Jika kita ingin membelanjakan secara merata sepanjang tahun, maka defisit pada triwulan pertama tahun ini tentu lebih besar dibandingkan triwulan pertama tahun sebelumnya,” kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 6 April 2026.

Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa defisit ini masih dalam batas yang terkendali. Dia menyatakan bahwa defisit yang terjadi di awal tahun adalah hal yang biasa dan perlu untuk diperhatikan.

“Itu adalah sesuatu yang wajar, namun kami akan terus memantau perkembangan pendapatan dan belanja selama setahun ke depan. Kami sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan situasi ini,” tambahnya.

➡️ Baca Juga: Xbox Game Pass vs PS Plus Premium Harga 79 Ribu, 6 Alasan Kenapa Gak Semudah Itu Pilihannya

➡️ Baca Juga: Lokalisasi Fail Game Global dengan 82 Persen Gagal di Indonesia karena Tidak Adaptasi Budaya

Related Articles

Back to top button