6 Negara dengan Giant Sea Wall, Indonesia Siap Membangun Infrastruktur Serupa!

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan ambisi Indonesia untuk membangun giant sea wall atau tanggul laut raksasa yang akan membentang di sepanjang Pantai Utara Pulau Jawa. Infrastruktur yang ambisius ini direncanakan menghubungkan Banten hingga Gresik, Jawa Timur, sebagai respons terhadap ancaman serius seperti kenaikan permukaan air laut dan banjir rob yang semakin mengkhawatirkan.
Rencana pembangunan ini diungkapkan Prabowo saat menyampaikan pidato mengenai Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung Nusantara, yang terletak di kompleks Parlemen Jakarta, pada tanggal 14 Agustus 2026.
Prabowo menyadari bahwa proyek besar ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Diperkirakan, pembangunan akan memakan waktu sekitar 15 hingga 20 tahun dan mungkin akan melewati beberapa periode pemerintahan.
“Saya tidak bisa memastikan presiden ke berapa yang akan meresmikan proyek ini, tetapi saya bertekad Presiden ke-8 akan memulai inisiatif ini,” ungkap Prabowo Subianto.
Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengembangkan infrastruktur perlindungan pesisir berskala besar. Sejumlah negara telah berhasil membangun tanggul laut, sistem pengendalian banjir, serta penghalang gelombang untuk melindungi daerah pesisir dari dampak air laut. Berikut adalah beberapa contoh negara yang telah melakukan hal serupa.
Korea Selatan
Salah satu contoh terkemuka adalah Korea Selatan dengan proyek Saemangeum Seawall, yang dikenal sebagai salah satu tanggul laut terbesar di dunia. Tanggul ini membentang sekitar 33,9 kilometer di pesisir barat negara tersebut.
Pembangunan Saemangeum tidak hanya fokus pada pengendalian air laut. Kawasan tersebut juga ditujukan untuk mendukung sektor pertanian, penyediaan air, industri, dan pariwisata.
Proyek ini menjadi contoh bagaimana infrastruktur perlindungan pesisir dapat diintegrasikan dengan pengembangan ekonomi baru.
Belanda
Belanda dikenal luas karena teknologi pengendalian banjir yang canggih. Salah satu sistem perlindungan pesisir paling terkenal di negara ini adalah Delta Works, yang terdiri dari berbagai elemen seperti bendungan, pintu air, tanggul, serta infrastruktur pengendali air lainnya.
Pembangunan Delta Works dipicu oleh bencana banjir besar yang melanda Belanda pada tahun 1953. Tragedi tersebut mendorong pemerintah untuk membangun sistem pertahanan pesisir yang lebih handal dan berkelanjutan.
Saat ini, Delta Works diakui sebagai simbol ketangguhan Belanda dalam menghadapi ancaman banjir serta kenaikan permukaan air laut yang terus meningkat.
Jepang
Jepang, sebagai negara yang sering menghadapi bencana alam seperti tsunami, telah mengembangkan berbagai infrastruktur untuk melindungi pantainya. Proyek tanggul laut yang dikenal sebagai “Tanggul Tsunami” telah dibangun di berbagai wilayah, dengan tinggi mencapai 15 meter di beberapa lokasi.
Tanggul ini dirancang untuk melindungi komunitas pesisir dan mengurangi risiko kerusakan akibat gelombang besar. Selain itu, Jepang juga berinvestasi dalam teknologi peringatan dini untuk meningkatkan keselamatan masyarakat.
Pendekatan Jepang dalam menghadapi risiko pesisir menunjukkan pentingnya kombinasi antara infrastruktur fisik dan teknologi canggih.
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, New Orleans menjadi salah satu contoh utama dari upaya perlindungan pesisir. Setelah dilanda badai Katrina, pemerintah setempat melakukan pembangunan sistem tanggul yang lebih kuat dan efisien.
Sistem ini mencakup bendungan dan pompa yang dirancang untuk mengendalikan air dan melindungi kota dari ancaman banjir. Selain itu, proyek ini juga mencakup restorasi ekosistem alami, seperti rawa-rawa, yang berfungsi sebagai penyangga alami terhadap gelombang.
Pendekatan holistik Amerika Serikat dalam mengatasi masalah banjir menjadi inspirasi bagi negara-negara lain yang berjuang dengan tantangan serupa.
China
China juga tidak ketinggalan dalam pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir. Salah satu proyek utama adalah Tanggul Laut Shanghai yang memiliki panjang lebih dari 20 kilometer. Tanggul ini dirancang untuk melindungi kota dari kenaikan permukaan air laut dan badai.
Proyek ini mencakup berbagai fasilitas, termasuk taman dan jalur pejalan kaki, yang tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan tetapi juga sebagai ruang publik bagi warga. Kombinasi antara fungsi perlindungan dan ruang rekreasi ini menjadi salah satu keunggulan dari infrastruktur di China.
Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa pembangunan giant sea wall di Indonesia bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam menangani masalah lingkungan. Melihat contoh dari negara-negara lain, Indonesia memiliki kesempatan untuk mengadopsi praktik terbaik dan menerapkannya dalam konteks lokal.
Dengan memanfaatkan pengalaman negara-negara yang telah sukses membangun infrastruktur serupa, Indonesia dapat merancang proyek yang tidak hanya melindungi kawasan pesisir tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
➡️ Baca Juga: <p>“Apple TV Menghidupkan Kembali Film Thriller Kriminal London yang Terkenal karena Kembalinya yang Sangat Dinanti”</p>
➡️ Baca Juga: Xbox Game Pass Day One 5 Game yang Bakal Rilis Besok Langsung Bisa Dimainin!



