Menteri Perang AS Tegaskan Iran Tidak Akan Menang Dalam Pertarungan Melawan Kami

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan bahwa tuntutan Presiden Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat akan terwujud pada akhirnya, meskipun negara tersebut enggan untuk mengakuinya.
Hegseth berpendapat bahwa meski Iran tidak mengungkapkan secara terbuka, pada akhirnya mereka akan terpaksa mengakui kenyataan dan berada dalam posisi untuk menyerah.
Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis CBS, Major Garrett, Hegseth menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menyerang sekitar 3.000 target di dalam wilayah Iran. Ia menekankan bahwa terdapat titik di mana Iran tidak akan dapat melanjutkan perlawanan mereka.
“Ini adalah sebuah perang. Ini adalah konflik yang bertujuan untuk membuat lawan mengakui kekalahannya. Apakah mereka akan melakukan pengumuman resmi di Teheran atau tidak, itu terserah mereka,” tegas Hegseth.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan tanggapan tegas terhadap tuntutan AS, menyebutnya sebagai sebuah mimpi yang seharusnya dibawa hingga akhir hayat.
Hegseth kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas serangannya terhadap Iran. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes, ia menyebutkan bahwa konflik ini baru saja dimulai.
“Apa yang ingin saya sampaikan kepada penonton adalah bahwa ini baru permulaan,” katanya.
Hegseth menjelaskan bahwa peristiwa ini bermula pada bulan Juni tahun lalu, ketika Amerika Serikat melakukan operasi militer yang dikenal sebagai Operation Midnight Hammer. Dalam operasi tersebut, serangan udara ditujukan untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran.
Ia menekankan bahwa seharusnya Iran sudah siap untuk bernegosiasi pada saat itu.
“Mereka seharusnya datang ke meja perundingan dan berkata, ‘Kami mengerti. Kalian serius. Kami tidak akan mengembangkan senjata nuklir’. Namun, kenyataannya mereka tidak melakukan itu,” jelas Hegseth.
Ia menambahkan bahwa Presiden Trump melihat program nuklir Iran sebagai ancaman jangka panjang yang akan terus berkembang jika tidak dihentikan.
Ada banyak narasi mengenai bagaimana dan mengapa perang ini bisa pecah. Beberapa pendukung Trump bahkan mengkritik keputusan tersebut, dengan menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah menarik Amerika Serikat ke dalam konflik yang dianggap tidak sepenuhnya mendukung kepentingan nasional.
Namun, Hegseth menolak pandangan tersebut.
“Kami selalu memiliki kendali penuh atas keputusan untuk melanjutkan operasi atau tidak. Semua tindakan yang diambil bertujuan untuk melindungi kepentingan Amerika dan keselamatan warganya,” ujarnya.
➡️ Baca Juga: Hilirisasi Sebagai Solusi Strategis Mengatasi Tantangan Kolonialisasi Modern
➡️ Baca Juga: 10 Aplikasi Linux Yang Bisa Di Chromebook Tanpa Crouton Bisa Steam Tanpa Hack




