Iran Menutup Kembali Selat Hormuz Setelah Serangan Israel di Beirut

Amerika Serikat dan Iran mengklaim kemenangan pada Rabu, setelah mencapai kesepakatan gencatan senjata dua minggu yang melibatkan Israel. Namun, situasi kembali memanas segera setelahnya. Di tengah perjanjian tersebut, militer Israel melancarkan serangan mendadak ke sejumlah kawasan komersial dan pemukiman padat penduduk di pusat Beirut pada Rabu sore waktu setempat, tanpa adanya peringatan sebelumnya.
Serangan tersebut mengakibatkan setidaknya 112 korban jiwa dan ratusan orang lainnya terluka. Iran menganggap tindakan Israel ini sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Trump, yang menunjukkan ketegangan yang semakin meningkat di kawasan tersebut.
Menurut laporan AP News pada Kamis, 9 April 2026, Komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jenderal Seyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon sama dengan menyerang Iran sendiri. Ia juga memperingatkan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan respons yang signifikan, meskipun rincian lebih lanjut mengenai langkah tersebut belum diungkapkan.
Di sisi lain, Kepala Staf Militer Israel, Letjen Eyal Zamir, menyatakan bahwa negaranya akan terus mengambil setiap kesempatan untuk menyerang kelompok Hizbullah. Militer Israel bahkan mengklaim telah menargetkan lebih dari 100 sasaran di Lebanon dalam waktu hanya 10 menit, yang diakui sebagai serangan terbesar sejak 1 Maret.
Sebelumnya, pada Rabu, 8 April 2026, Donald Trump mengumumkan gencatan senjata melalui media sosial Truth miliknya. Pengumuman itu disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang ditetapkannya, yaitu pukul 20.00 waktu AS, untuk melaksanakan serangan terhadap fasilitas-fasilitas penting di Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
Rencana serangan tersebut telah diingatkan oleh sejumlah ahli hukum internasional, berbagai pejabat dari berbagai negara, hingga Paus, sebagai langkah yang berpotensi dianggap sebagai kejahatan perang. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang sedang berlangsung dan dampak luas yang dapat ditimbulkannya.
Beberapa jam sebelum pengumuman gencatan senjata, Trump juga menulis di Truth Social bahwa peradaban Iran akan hancur dalam semalam jika kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang tinggi dan ancaman yang dirasakan oleh banyak pihak.
Trump mengungkapkan, “Sebuah peradaban akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, namun kemungkinan besar itu akan terjadi,” seperti yang dilaporkan oleh The Guardian pada Rabu, 8 April 2026.
Kabar terbaru menunjukkan bahwa pesawat pengebom B-52 sedang dalam perjalanan menuju Iran sebelum gencatan senjata diumumkan. Ini menambah dimensi baru pada situasi yang semakin tegang antara kedua negara.
Namun, pada Selasa malam, Trump mengumumkan bahwa kesepakatan tersebut berhasil dimediasi oleh Pakistan. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, meminta periode damai selama dua minggu agar proses diplomasi dapat berjalan dengan baik. Ini menandakan upaya diplomatik yang penting di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.
➡️ Baca Juga: Geekbench multicore Dimensity 9200 masih kalah tips Snapdragon 8+ Gen 1?
➡️ Baca Juga: Malam Liga Champions: Comeback Sporting Lisbon dan Kemenangan Penting Arsenal di Emirates




