Manchester United Alami Kerugian Berkelanjutan Meski Performa di Lapangan Meningkat

Manchester United terus menghadapi tantangan yang serius. Di tengah usaha untuk memperkuat kembali tim, klub yang dikenal dengan sebutan Setan Merah ini justru mencatat kerugian tahunan untuk ketujuh kalinya secara beruntun.
Menurut informasi yang dirilis oleh Reuters, Manchester United mengalami kerugian bersih sebesar 43 juta poundsterling, yang setara dengan sekitar Rp1,03 triliun, untuk tahun keuangan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan kerugian sebesar 33 juta poundsterling atau sekitar Rp788 miliar yang tercatat pada periode sebelumnya.
Menambah beban finansial klub, terdapat biaya luar biasa sebesar 8,2 juta poundsterling atau sekitar Rp196 miliar, yang terkait dengan pemecatan mantan pelatih Ruben Amorim serta proses restrukturisasi yang sedang berlangsung.
Kondisi ini muncul saat Manchester United tengah menerapkan berbagai langkah penghematan di bawah arahan miliarder Inggris, Jim Ratcliffe. Ratcliffe, yang merupakan pemegang saham minoritas dan berperan signifikan dalam pengelolaan klub, mendorong kebijakan efisiensi yang mencakup pengurangan jumlah karyawan dan peningkatan harga tiket.
Kerugian yang tercatat pada tahun 2026 menjadi yang ketujuh berturut-turut. Sebelumnya, klub ini sempat mencatatkan keuntungan pada tahun 2017 dan 2018, namun setelah itu laporan keuangan mereka kembali didominasi oleh angka merah.
Pada tahun 2024, kerugian bersih yang dialami Manchester United mencapai 113,2 juta poundsterling, setara dengan sekitar Rp2,70 triliun. Sebelumnya, pada tahun 2023, kerugian mereka tercatat sebesar 28,7 juta poundsterling, atau sekitar Rp685 miliar, dan pada tahun 2022, jumlah kerugian mencapai 115,5 juta poundsterling, yang setara dengan Rp2,76 triliun.
Di tengah tekanan finansial ini, CEO Manchester United, Omar Berrada, menegaskan komitmen klub untuk menjaga kondisi keuangan tetap berkelanjutan.
“Kami akan terus menerapkan pendekatan yang disiplin untuk memastikan bahwa keuangan kami tetap dalam kondisi yang berkelanjutan,” ujar Berrada yang dikutip dari Reuters.
Manchester United tetap berada dalam batasan yang ditetapkan oleh regulasi Profitability and Sustainability Regulations (PSR) Premier League. Aturan tersebut membatasi kerugian klub hingga 105 juta poundsterling atau sekitar Rp2,51 triliun dalam periode tiga tahun, dengan beberapa pengecualian untuk investasi infrastruktur, akademi, sepak bola wanita, serta kegiatan amal.
Walaupun menghadapi catatan kerugian yang cukup signifikan, Manchester United memiliki proyeksi yang optimis untuk tahun keuangan berikutnya. Klub memperkirakan pendapatan untuk tahun finansial 2027 akan mencapai rekor baru, berkisar antara 740 juta hingga 760 juta poundsterling, yang setara dengan Rp17,67 triliun hingga Rp18,15 triliun. Proyeksi ini menunjukkan peningkatan dari pendapatan yang tercatat sebesar 677,6 juta poundsterling atau sekitar Rp16,18 triliun pada tahun finansial 2026.
➡️ Baca Juga: <p>Apple Mengakuisisi Startup Q.ai Senilai $2 Miliar: Apa Artinya Bagi Inovasi AI</p>
➡️ Baca Juga: BRIN Teliti Usulan Pemanfaatan Ubi Sebagai Alat Pemadam Kebakaran Hutan dan Lahan




