kpkgg
berita

Kemenimipas Tingkatkan Pembinaan Napi Melampaui Sekadar Pelatihan Saja

Jakarta – Pelaksanaan 15 Program Aksi yang digagas oleh Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) tidak hanya dinilai dari segi pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dari dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat secara luas.

Hal ini terbukti dari berbagai pencapaian yang tercatat sepanjang kuartal I hingga III tahun 2026, yang mencakup peningkatan layanan keimigrasian berbasis digital serta pembinaan dan pemberdayaan narapidana (napi).

Dalam konteks pemasyarakatan, pembinaan bagi warga binaan tidak hanya berhenti pada tahap pemberian pelatihan. Kompetensi yang diperoleh perlu diikuti dengan pengalaman kerja, kesempatan untuk berkarya, dan ruang untuk berkontribusi secara aktif kepada masyarakat.

Salah satu contoh nyata dari upaya ini dapat dilihat dalam pelaksanaan Program Pelatihan Pemulasaran Jenazah di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Muntok. Dalam program ini, para narapidana diajarkan tentang prosedur memandikan, mengkafani, dan menyolatkan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

“Setelah menyelesaikan program ini, peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat sebagai penanda keahlian mereka. Semoga ini bisa menjadi modal berharga saat mereka kembali ke masyarakat,” ungkap Andri Ferly, Kepala Rutan Muntok, pada hari Rabu (7/10/2026).

Ferly menekankan bahwa inisiatif ini bukan sekadar untuk mengisi waktu selama di dalam rutan, tetapi juga sebagai sarana untuk transformasi sosial bagi para narapidana.

Dia juga menyebutkan bahwa keahlian dalam mengurus jenazah membuka peluang kerja yang signifikan bagi narapidana setelah mereka dibebaskan. Ferly mengingatkan bahwa tujuan utama dari pemasyarakatan adalah memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Permintaan untuk layanan pemulasaran jenazah cukup tinggi. Dengan sertifikat resmi yang mereka peroleh, narapidana dapat bekerja secara profesional di bidang ini atau bahkan membantu masyarakat yang membutuhkan,” tuturnya.

Ferly menambahkan bahwa program ini dirancang untuk memulihkan trinitas kehidupan, yaitu hubungan hidup, penghidupan, dan kehidupan itu sendiri. Hal ini bertujuan agar para narapidana tidak terjerumus kembali ke dalam perilaku kriminal setelah mereka bebas.

“Di gelombang pertama, kami memiliki 25 peserta yang mengikuti program ini. Namun, kami akan melanjutkan dengan menjadwalkan giliran, sehingga semua narapidana yang beragama Islam dapat memperoleh keahlian ini,” jelas Ferly.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, pihaknya bekerja sama dengan instruktur dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangka Barat, salah satunya adalah Parhad. Dia berpendapat bahwa pembinaan dalam aspek rohani dan keterampilan praktis, seperti pemulasaran jenazah, sangat penting karena menyentuh dimensi kemanusiaan bagi para warga binaan.

➡️ Baca Juga: Konsumen Kini Memanfaatkan Kalkulator Hidup untuk Membeli Mobil dengan Cerdas

➡️ Baca Juga: <p>“Google AI Plus Diluncurkan di AS seharga $7,99 dengan Peningkatan Google One 2 TB yang Disempurnakan”</p>

Related Articles

Back to top button