Biaya Pengisian Mobil Listrik di SPKLU: Berapa Totalnya?

Pengguna mobil listrik saat ini semakin dimudahkan dalam menemukan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di berbagai lokasi. Fasilitas ini menjadi sangat penting bagi pemilik kendaraan listrik, terutama saat melakukan perjalanan jauh yang memerlukan pengisian baterai dalam waktu yang relatif singkat.
Sebelum memanfaatkan SPKLU, ada satu aspek yang perlu diperhatikan, yaitu biaya pengisian daya. Besaran biaya pengisian mobil listrik di SPKLU tidak hanya dipengaruhi oleh kapasitas baterai kendaraan, tetapi juga oleh jumlah energi yang digunakan serta jenis layanan pengisian yang dipilih.
Menurut sumber dari Auto2000, tarif pengisian untuk kendaraan listrik di SPKLU berkisar sekitar Rp2.466 per kWh. Selain biaya listrik berdasarkan jumlah energi yang dimasukkan ke dalam baterai, pengguna juga mungkin dikenakan biaya tambahan untuk layanan pengisian cepat.
Sebagai contoh, untuk layanan fast charging, pengguna akan dikenakan biaya layanan sekitar Rp25.000. Sementara itu, untuk penggunaan ultra fast charging, biaya layanan bisa mencapai sekitar Rp57.000.
Menghitung biaya pengisian daya sebenarnya cukup mudah. Pengguna hanya perlu mengalikan jumlah energi listrik yang digunakan dengan tarif per kWh yang berlaku.
Sebagai ilustrasi, misalkan sebuah mobil listrik memiliki kapasitas baterai 40 kWh. Jika baterai tersebut diisi dari keadaan kosong hingga penuh, secara teoritis biaya listrik yang diperlukan adalah:
40 kWh x Rp2.466 = Rp98.640.
Apabila pengisian dilakukan dengan menggunakan layanan fast charging dan dikenakan biaya tambahan Rp25.000, maka total biaya yang harus dibayarkan berkisar sekitar Rp123.640.
Meskipun demikian, angka tersebut tidak berarti setiap pengisian di SPKLU akan memakan biaya sebesar itu. Dalam praktik sehari-hari, pemilik mobil umumnya tidak mengisi baterai dari kosong hingga penuh.
Contohnya, jika baterai masih memiliki sisa 30 persen dan pengguna hanya ingin mengisi hingga 80 persen, maka energi yang dibutuhkan tentu akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pengisian dari keadaan kosong.
Selain itu, ada perbedaan antara kapasitas baterai dan energi listrik yang diambil dari jaringan. Proses pengisian memiliki tingkat efisiensi tertentu, sehingga konsumsi listrik dari sumbernya bisa lebih besar dibandingkan dengan energi yang benar-benar tersimpan di dalam baterai.
Jenis layanan pengisian juga mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Layanan fast charging menawarkan waktu pengisian yang lebih singkat dibandingkan dengan pengisian normal. Sementara itu, ultra fast charging mampu menyalurkan daya lebih besar, sehingga waktu tunggu bisa semakin singkat, tergantung pada kemampuan mobil dan fasilitas yang tersedia di SPKLU.
➡️ Baca Juga: Huawei Runner Watch: Smartwatch Terbaru dengan Fitur Olahraga Revolusioner
➡️ Baca Juga: Gempa Susulan M 3,7 Mengguncang Pacitan 5 Menit Setelah Guncangan Utama, Intensitas Menurun




