depo qris depo 10k
lifestyle

Makanan Ultra-Processed: Apa Saja Bahayanya Menurut Penjelasan Ahli?

Istilah makanan ultra-processed (UPF) semakin sering dibahas dalam konteks pola makan dan kesehatan. Banyak individu yang beranggapan bahwa semua jenis makanan dalam kategori ini sebaiknya dihindari tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lainnya.

Namun, para ahli menjelaskan bahwa permasalahan terkait pangan tidak dapat disederhanakan hanya dengan membedakan antara makanan yang “diproses” dan yang “tidak diproses”. Yang jauh lebih penting untuk diperhatikan adalah proses pengolahan yang dilakukan, kandungan gizi yang terdapat dalam makanan, tujuan dari produk tersebut, serta cara konsumsi dalam kehidupan sehari-hari.

Minat terhadap makanan ultra-processed meningkat seiring dengan langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memulai penyusunan pedoman tentang konsumsi makanan jenis ini untuk tahun 2025.

Salah satu sistem yang umum digunakan dalam mengelompokkan makanan berdasarkan tingkat pengolahannya adalah sistem NOVA. Sistem ini membagi makanan menjadi empat kategori: makanan yang tidak atau sedikit diproses, bahan kuliner olahan, makanan olahan, dan makanan ultra-processed.

Namun, pengelompokan berdasarkan tingkat pengolahan tidak secara otomatis menunjukkan bahwa semakin banyak proses yang dilakukan, maka kualitas makanan akan semakin rendah.

Pengolahan tidak selalu berkonotasi negatif terhadap kualitas makanan.

Prof. Purwiyatno Hariyadi, seorang Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan dari IPB University, menggarisbawahi isu yang muncul dari penggunaan istilah ultra-processed.

Ia menjelaskan bahwa istilah ini dapat memberikan kesan bahwa tingkat pengolahan dapat diukur dengan batasan yang jelas. Padahal, tidak ada parameter yang tegas untuk menentukan kapan suatu makanan bisa dikategorikan sebagai “ultra-processed”.

Selain mempertimbangkan proses, klasifikasi juga melibatkan formulasi dan jenis bahan yang digunakan. Meskipun demikian, pengolahan dan formulasi merupakan dua hal yang berbeda.

Oleh karena itu, kompleksitas proses pengolahan seharusnya tidak dijadikan satu-satunya patokan untuk menilai baik atau buruknya suatu produk pangan.

“Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semakin kompleks atau semakin banyak tahapan pengolahan suatu pangan, maka kualitasnya pasti semakin buruk. Yang perlu dinilai adalah proses yang dilakukan, kondisi saat itu, perubahan yang ditimbulkan, dan atribut mutu yang terpengaruh,” jelas Prof. Purwiyatno dalam keterangan yang diungkapkan pada 29 September 2026.

Di dunia industri pangan, berbagai metode seperti pemanasan, pasteurisasi, sterilisasi, fermentasi, pengeringan, dan pembekuan digunakan dengan tujuan tertentu.

➡️ Baca Juga: Rayo Vallecano Kalah Telak dari Real Madrid, Emil Audero Dikenal Media Spanyol Sebagai Penyelamat Terbaik

➡️ Baca Juga: Bitcoin Melonjak Kembali Pasca Penurunan ke US$57 Ribu: Momentum atau Jebakan?

Related Articles

Back to top button