kpkgg
berita

Tembok Pembatas SDN Tapos 3 Depok Roboh, Dua Siswa Kelas 3 Alami Luka di Kepala dan Punggung

Tembok pembatas di SDN Tapos 3, Kota Depok, Jawa Barat, mengalami keruntuhan yang mengakibatkan dua siswa kelas tiga terluka. Insiden tersebut terjadi saat kedua siswa laki-laki itu sedang menunggu pergantian jam pelajaran dan tertimpa tembok yang roboh.

Peristiwa ini berlangsung ketika sejumlah siswa duduk di bawah tembok sambil menanti giliran untuk pelajaran olahraga. Tiba-tiba, tembok pembatas tersebut runtuh, menimpa dua siswa yang berada di dekatnya.

Segera setelah kejadian tersebut, beberapa guru yang ada di lokasi langsung membawa kedua siswa tersebut ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan. Dugaan awal menunjukkan bahwa kerusakan pada tembok disebabkan oleh kondisi struktural yang sudah menurun akibat usia.

Kedua siswa yang terlibat dalam insiden ini merupakan pelajar kelas tiga di SDN Tapos 3. Salah satu dari mereka mengalami luka di bagian kepala, sementara siswa lainnya mengalami cedera di punggung.

Kepala Sekolah SDN Tapos 3, Arum Ika Susanti, menjelaskan bahwa saat kejadian, anak-anak sedang duduk di bawah tembok yang akhirnya roboh. Mereka menunggu pergantian jam pelajaran olahraga, dan situasi ini sangat mengejutkan bagi semua yang ada di sekitar.

Tembok pembatas tersebut memang sudah dinilai rapuh, dan kondisi ini diyakini menjadi faktor utama mengapa struktur tembok tidak dapat bertahan, hingga akhirnya mengalami keruntuhan yang membahayakan siswa.

Gunawan, Kepala Seksi Kelembagaan dan Peserta Didik Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kota Depok, menyatakan bahwa kerusakan pada tembok pembatas sudah terdaftar dalam rencana perbaikan yang direncanakan untuk tahun ini.

Dengan demikian, meskipun tembok yang roboh telah menjadi bagian dari agenda perbaikan fasilitas sekolah, insiden ini terjadi sebelum perbaikan dapat dilaksanakan, yang berujung pada cedera bagi dua siswa tersebut.

Pihak sekolah memastikan bahwa biaya pengobatan untuk kedua siswa akan sepenuhnya ditanggung oleh sekolah. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan medis para korban setelah insiden yang terjadi di lingkungan sekolah.

Penanganan medis terhadap kedua siswa menjadi fokus utama setelah kejadian yang terjadi di tengah aktivitas belajar mengajar. Kedua siswa tersebut telah mendapatkan perawatan yang memadai dan diizinkan pulang setelah dijemput oleh orang tua masing-masing.

➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Menghadapi Lawan Badminton Melalui Teknik Menyerang yang Tepat

➡️ Baca Juga: 7 Fitur iOS 18 yang Hilang dari iPhone 12 Ke Bawah Gara-gara Hardware Terbatas, Kasihan Nggak Sih?

Related Articles

Back to top button